Lewati ke konten utama
KONSYS.ID

Akuntansi

Contoh Jurnal Akuntansi Kontraktor: Uang Muka, Biaya Proyek, Termin, hingga Retensi

Tim KONSYS.ID 2 menit baca

Akuntansi kontraktor berbeda dengan dagang atau jasa umum karena tiga hal: biaya harus dikumpulkan per proyek, pendapatan ditagih bertahap, dan ada akun khusus seperti uang muka diterima dan piutang retensi.

Berikut contoh jurnal untuk transaksi yang paling sering terjadi. Contoh disederhanakan dan menggunakan metode pengakuan pendapatan saat termin ditagih. Untuk pelaporan berbasis progres (PSAK 72/115), lihat artikel terpisah.

1. Menerima uang muka proyek

Uang muka belum menjadi pendapatan karena pekerjaan belum dilakukan. Uang muka dicatat sebagai kewajiban.

AkunDebitKredit
Kas / BankRp400.000.000
Uang muka diterima – Proyek ARp400.000.000

Bila uang muka dikenai PPN, PPN keluaran dicatat terpisah pada saat yang sama.

2. Membeli material untuk proyek

Material yang langsung dipakai di proyek dibebankan ke biaya proyek. Material yang disimpan di gudang dicatat sebagai persediaan terlebih dahulu.

AkunDebitKredit
Biaya material – Proyek ARp50.000.000
PPN masukanRp5.500.000
Utang usaha – Toko BangunanRp55.500.000

3. Membayar upah tukang

Upah dibebankan ke proyek tempat tukang bekerja. Kasbon yang dipotong mengurangi piutang karyawan.

AkunDebitKredit
Biaya upah – Proyek ARp18.000.000
Piutang kasbon pekerjaRp1.500.000
KasRp16.500.000

4. Memberi dan mempertanggungjawabkan panjar mandor

Saat diberikan, panjar adalah aset atas nama pemegangnya. Saat nota disetujui, panjar berkurang dan biaya proyek bertambah.

AkunDebitKredit
Panjar kerja – Mandor BudiRp5.000.000
KasRp5.000.000
Biaya material – Proyek ARp4.200.000
Panjar kerja – Mandor BudiRp4.200.000

5. Menagih termin

Contoh progres periode Rp400 juta, potongan uang muka 20%, retensi 5%, PPN 11% atas tagihan bersih.

AkunDebitKredit
Piutang usaha – Pemberi kerjaRp333.000.000
Uang muka diterima – Proyek ARp80.000.000
Piutang retensi – Proyek ARp20.000.000
Pendapatan proyek – Proyek ARp400.000.000
PPN keluaranRp33.000.000

6. Menerima pembayaran termin dan bukti potong PPh final

PPh final 1,75% × Rp300 juta = Rp5.250.000 dipotong pemberi kerja.

AkunDebitKredit
BankRp327.750.000
Beban PPh finalRp5.250.000
Piutang usaha – Pemberi kerjaRp333.000.000

7. Menerima retensi setelah FHO

Saat retensi ditagih dan dibayar, piutang retensi ditutup. PPN dan PPh final atas bagian retensi dicatat mengikuti penagihannya.

AkunDebitKredit
BankRp20.000.000
Piutang retensi – Proyek ARp20.000.000

Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan nasihat pajak atau akuntansi. Ketentuan dapat berubah; pastikan perlakuan untuk kasus Anda dengan konsultan pajak atau akuntan.

Pertanyaan seputar topik ini

Apakah kontraktor harus memakai PSAK 72?

Entitas yang menyusun laporan keuangan sesuai SAK umum mengakui pendapatan kontrak berdasarkan progres (PSAK 72, kini PSAK 115). Banyak kontraktor kecil yang memakai SAK EMKM mencatat pendapatan saat termin ditagih. Konsultasikan dengan akuntan Anda.

Bagaimana memisahkan biaya per proyek?

Berikan penanda proyek pada setiap transaksi biaya, bukan hanya akun yang berbeda. Dengan begitu laporan laba rugi per proyek bisa dibuat tanpa memecah bagan akun.

Artikel lainnya

Diskusikan Kebutuhan Keuangan & Kontrol Proyek Anda

Jadwalkan sesi konsultasi dan demo interaktif bersama tim KONSYS untuk alur kerja yang relevan dengan perusahaan Anda.