Akuntansi
Cara Menghitung HPP Proyek Konstruksi dan Membaca Marginnya
Tim KONSYS.ID 2 menit baca
Harga Pokok Proyek (HPP) adalah seluruh biaya langsung yang dikeluarkan untuk mengerjakan satu proyek. Selisih antara pendapatan kontrak dan HPP adalah laba kotor proyek, dan angka inilah yang menunjukkan apakah sebuah proyek layak.
Komponen HPP proyek
- Material: semua bahan yang terpasang atau terpakai di proyek.
- Upah: tukang, kenek, mandor lepas, termasuk lembur.
- Alat: sewa alat berat dan peralatan, atau alokasi penyusutan alat milik sendiri.
- Subkontraktor: nilai pekerjaan subkon yang sudah diopname.
- Operasional proyek: listrik dan air kerja, BBM genset, transport material, keamanan site.
Contoh perhitungan
Proyek ruko dengan nilai kontrak Rp4,2 miliar (sebelum PPN), progres 60%.
| Komponen | Biaya s/d hari ini |
|---|---|
| Material | Rp1.150.000.000 |
| Upah | Rp420.000.000 |
| Alat | Rp180.000.000 |
| Subkon | Rp310.000.000 |
| Operasional | Rp95.000.000 |
| HPP s/d hari ini | Rp2.155.000.000 |
Pendapatan yang layak diakui pada progres 60% ≈ Rp2,52 miliar, sehingga laba kotor s/d hari ini ≈ Rp365 juta (sekitar 14,5%). Bandingkan dengan margin rencana di RAB untuk melihat apakah proyek di jalur yang benar.
Kesalahan yang membuat margin salah
- Material sisa yang dipindah ke proyek lain tetap tercatat di proyek asal.
- Kasbon tukang dicatat sebagai biaya upah.
- Tagihan subkon dan pemasok yang belum datang tidak dihitung, padahal pekerjaannya sudah selesai.
- Biaya kantor pusat dicampur ke proyek tanpa dasar alokasi yang jelas.
Di KONSYS
Setiap biaya yang disetujui menempel ke proyek dan kategorinya, sehingga HPP dan laba per proyek terbarui tanpa rekap. Job Cost juga memperhitungkan komitmen (PO dan SPK yang belum ditagih) serta perkiraan biaya sampai selesai.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan nasihat pajak atau akuntansi. Ketentuan dapat berubah; pastikan perlakuan untuk kasus Anda dengan konsultan pajak atau akuntan.
Pertanyaan seputar topik ini
Apakah biaya kantor masuk HPP proyek?
Biaya kantor pusat umumnya beban usaha, bukan HPP. Bila dialokasikan ke proyek, gunakan dasar alokasi yang konsisten.
Kapan HPP dihitung?
Sebaiknya terus-menerus. Minimal setiap bulan dan setiap titik termin, agar masalah biaya terdeteksi sebelum proyek selesai.
Artikel lainnya
Diskusikan Kebutuhan Keuangan & Kontrol Proyek Anda
Jadwalkan sesi konsultasi dan demo interaktif bersama tim KONSYS untuk alur kerja yang relevan dengan perusahaan Anda.